Langsung ke konten utama

Intuisi Sang Nahkoda

Pada Desember 2017 lalu Partai Nasdem membuat keputusan paling dramatis dalam sejarah pilkada.  Nasdem tetiba memberikan kapalnya kepada Edy Rahmayadi Musa Rajecksha untuk ditumpangi.  Ini di luar dugaan banyak orang. 

Pasalnya kader Nasdem sendiri Tengku Rizal Nurdin yang juga gubernur petahana Sumut malah harus gigit jari melihat surat rekomendasi Nasdem pindah ke tangan Edy Ijeck.

Banyak yang mencibir keputusan Nasdem kala itu. Tidak mudah memang menerima cara berpikir Surya Paloh yang berputar arah melawan kelaziman. Ini seperti kisah Julius Caesar yang menyerahkan kekuasaannya pada panglima perangnya sendiri bukan kepada anak kandungnya.

Intuisi Julius Caesar melihat negara akan runtuh jika mahkota kerajaan diberikan kepada anak kandungnya.  Demi keselamatan negara, Julius terpaksa memberi kepada panglima perangnya. Sekalipun hatinya tidak terima, hitungan intuisinya tidak bisa disangkalnya.

Seorang nakhoda ulung digembleng oleh badai dan kerasnya ombak. Ia dibentuk oleh alam yang seketika bisa berubah cuaca dalam hitungan menit. 

Keputusan untuk menaikkan layar,  menurunkan layar, membelok sekian derajat saat di samudra luas harus benar-benar tepat. Jika tidak alamat kapal akan tenggelam.  Tidak bakal ada seorangpun akan menolong kapalnya dan seluruh anak buahnya.

Surya Paloh sebagai kapten kapal Nasdem yang baru tumbuh berkembang 5 tahun, patut diacungi dua jempol atas kepiawaiannya menakhodai Kapal Nasdem.  Ia punya kecakapan mumpuni secara teknis administratur. Ia punya leadership yang kuat. Dan ini yang spesial yang mungkin menjadi kelebihannya yaitu intuisi.

Keputusan strategis paling lentur Surya Paloh adalah saat Surya Paloh dengan dada lapang mendeklarasikan Ridwan Kamil tanpa embel-embel RK harus masuk menjadi kader partai. Deklarasi Nasdem mendukung RK cukup megah kala itu.

Surya dengan tangan terbuka merangkul RK semata dengan keyakinan bahwa ide,  gagasan,  nilai yang akan disuarakan Nasdem tidak melulu karena RK menjadi kader Nasdem.  LNilai dan gagasan Nasdem adalah nilai RK itu sendiri.  Melebur dalam jiwa dan nafas RK itu sendiri. Bukan dalam jaket partai atau baju partai yang membungkus RK.

Ini berbanding terbalik dengan nakhoda Megawati Soekarno Putri. Mega menutup pintu pada RK karena ada syarat yang tidak bisa dipenuhi RK. Mega menolak RK karena tidak mau terperosok jatuh ke dalam lubang yang sama kedua kalinya. Mega pada Pilkada sebelumnya menelan pil pahit dikhianati cagub yang diusungnya karena setelah menang dengan gampang si cagub berpindah partai. 

Sebut saja Bibit Waluyo di Jateng, Gamawan Fauji di Sumbar,  I Made Mangku Pastika di Bali dan Lukas Enembe di Papua. Mereka adalah orang luar yang mendapat tiket dari PDIP tapi berpaling ke partai lain ketika terpilih. Sejak saat itu, arah kebijakan Mega berubah drastis.  Calon kepala daerah PDI P sebisanya harus dari kader PDI Perjuangan.

Kemarin para peserta kompetisi perahu layar antar partai memulai lomba. Hasilnya sudah keluar berdasar hitung cepat.  Dari hasil quick coint lembaga survei SMRC,  Charta Politika, Indo Barometer dan LSI, Partai Nasdem keluar sebagai juara umum. 11 Cagub Cawagub yang diusung Nasdem keluar sebagai pemenang. Sementara PDIP harus menerima kekalahan sebagai partai yang paling buncit diurutan bawah.

Surya Paloh dan Megawati Soekarno Putri adalah dua nakhoda besar dalam khasanah perpolitikan nasional. Surya Paloh lahir dan besar dengan gelora Bung Karno dalam setiap pidato dan ucapannya. Megawati anak Bung Karno yang terus mengawal Pancasila dan NKRI dalam helaan nafas kader partainya.

Hari ini,  dua tokoh politik papan atas nasional Surya Paloh dan Megawati melihat papan catur di depannya. Surya nampak sumringah, Mega terlihat datar dingin.

Kedua nakhoda senior yang punya jam terbang tinggi ini mengajarkan kepada kita dua persfektif dalam berlayar mengarungi samudera maha luas berpolitik. Lentur dalam mengemudi. Atau rigid dengan segala konswekensinya.

Selamat buat Partai Nasdem yang keluar sebagai pemenang pilkada serentak..

Selamat buat Nakhoda mumpuni Surya Paloh...

Salam Restorasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atlantis Di Indonesia

Isu kejatidirian bangsa Indonesia, bahwa Indonesia adalah pusat peradaban dunia, semacam Atlantis, dalam pengamatan saya mengemuka dalam tiga tahun terakhir ini. Ini seiring dengan terbitnya terjemahan dua buku kontroversial, "Atlantis itu Indonesia" (Arysio Santos, 2009) dan "Eden in the East" (Stephen Oppenheimer, 2010) . Saya berandai-berandai, bila kedua buku itu tidak diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, mungkin isu kejatidirian bangsa tak mengemuka serius sekarang, meskipun Soekarno sudah meneriakkan soal jati diri bangsa lebih dari 50 tahun yang lalu. Buku Atlantis itu kemudian melahirkan banyak buku lain tulisan orang-orang Indonesia yang umumnya mendukung bahwa Atlantis itu Indonesia. Beberapa kalangan pejabat atau tokoh masyarakat pun ramai-ramai mendukung tesis yang digulirkan Santos ini entah apa tujuannya, mungkin berusaha mengangkat jatidiri bangsa yang mungkin dalam pandangan mereka tengah merosot. Saya dengar sendiri itu diucapkan dari seora...

Bangsa Besar Yang Dikerdilkan

Lihatlah betapa kecilnya Nusantara Indonesia dalam peta dunia, padahal dalam logika sehat kita, tidak akan mungkin Negara dengan 17.000 pulau, digambarkan dengan sangat kecil. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, di mana hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni. Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Sumatra dan Papua merupakan pulau utama di Indonesia. Selain itu Indonesia juga memiliki pulau-pulau kecil seperti Bali, Karimunjawa, Gili dan Lombok yang merupakan tujuan wisata lokal maupun internasional. Ibukota negara Indonesia adalah Jakarta, yang terletak di Pulau Jawa. Dilihat dari segi geografis, kepulauan Indonesia terletak antara 5° 54′ 08″ bujur utara hingga 11° 08′ 20″ bujur selatan dan 95°00’38“ sampai 141°01’12“ bujur timur. Beberapa pulau terletak di garis ekuator. Karena itu, siang dan malam memiliki waktu yang hampir sama, yaitu 12 jam...

Kuliner Mustika Jaya

Rumah makan Bpk. Abir/Jenong, yang tak jauh dari dari Tugu Bambu Mustika Jaya ini, sangatlah mudah untuk ditemukan . Tepatnya Jalan Raya Mustika Jaya, Rt 02/Rw 07, kurang lebih 100 meter dari Kantor Kecamatan Mustika Jaya. Dengan tampilan sederhana, Rumah Makan yang sudah berdiri sejak 1978, tudak seperti Rumah Makan pada umumnya, yang banyak kita lihat di Kota Bekasi. Dari tampilan hingga susunan bangku & meja makan, begitu sederhana sekali, yang justru membuat bisa bertahan sampai saat ini. Rumah makan ini merupakan rumah makan yang menyediakan berbagai makanan khas Bekasi seperti gabus pucung, sop sapi, sayur asem, teri apa ge ada, ayam kampung, pecak bandeng, pecak lele, pecak mujair. “Rumah makan yang sudah dikelola oleh generasi keempat ini, Awalnya bapak saya yang buka tahun 1978, saya mulai tahun 1988,” kata Pemilik RM Bpk. Abir/Jenong, Fatimah (43). Yang uniknya semua penyajian menu makanan, di olah dengan cara yang juga terbilang sederhana, seperti Lalapan...